Peta PBM

Monday, 10 October 2011

Khemah PBM 2011

Shallom. Kita berjumpa lagi dalam rumusan khemah PBM 2011. Secara keseluruhan, khemah ini berjaya mesej yang jelas tentang pekerjaan Roh Kudus dan bagaimana Roh kudus itu sangat berkerja. Kami percaya bahawa khemah ini telah membawa semangat yang berkobar-kobar dalam pelayanan anda. Kami percaya bahawa Roh kudus sedang berkerja dengan luar biasa dalam diri peserta kem kali ini.
                                                                    Group photo

                                                             Sesi makan

Saturday, 8 October 2011

Khemah PBM 2011 Day 1

Shallom semua. Apa khabar? kita bertemu lagi dalam posting kali ini mengenai Khemah PBM 2011. Bermula semalam jamahab Roh kudus sangat luar biasa dalam Khemah ini. Ramai yang digerakkan dan disentuh hati mereka oleh Tuhan. Kita berdoa agar malam ini dan esok kuasa Tuhan dan kepenuhan Roh kudus akan meluap-luap dalam peserta Khemah kali ini. Amen


Saturday, 1 October 2011

ARTIKEL DOA: KEHIDUPAN PRIBADI PRAJURIT KRISTUS YANG BERDOA


Shalom,

Doa merupakan napas hidup orang percaya. Itulah sebuah ungkapan betapa
doa merupakan hal yang tidak dapat ditinggalkan dalam menjalani hidup
sebagai orang Kristen. Ibarat kehidupan yang mengharuskan kita
bernapas, demikian juga pertumbuhan iman kita akan mati jika kita
tidak berdoa. Dalam edisi kali ini, kami akan membahas hal-hal yang
sangat diperlukan untuk pertumbuhan rohani yang kuat. Kami berharap
semoga materi kali ini dapat memperkuat gaya hidup Anda untuk berdoa.
Tuhan memberkati.

Redaksi Tamu e-Doa,
Rento Ari Nugroho
< http://doa.sabda.org >

           ARTIKEL DOA: KEHIDUPAN PRIBADI PRAJURIT KRISTUS
                            YANG BERDOA

Rencana Allah Memakai Manusia

Fakta Alkitab menunjukkan bahwa Allah bekerja melalui manusia. Will
Houghton berkata, "Allah menulis sejarah dengan istilah manusiawi."
Cerita Kitab Kejadian berkisar pada delapan orang. Alkitab menampilkan
epik dan kurun sejarah, namun yang menjadi pusatnya adalah manusia.
"Umumnya, manusialah yang menjadi kunci zamannya", kata R.A. Torrey.
Memang benar, oranglah yang dipakai Allah sebagai pelaksana maksud-Nya
di dunia ini. Augustinus menambahkan, "Tanpa Allah, kita tak mampu.
Tanpa kita, Allah tidak mau."

Pikiran ini dilukiskan jelas ketika kita menghadiri kebaktian di
gereja. Bagaimanakah Allah mencapai orang-orang terhilang dalam
kebaktian? Apakah dengan bangku? Dengan lampu atau mimbar? Tidak. Cara
Allah ialah dengan memakai orang. Jarang sekali Allah memakai
barang-barang. Rencana-Nya berpusat pada seorang manusia. Setelah
kita bertumbuh rohani, kita baru bisa berdoa sesuai dengan keinginan
Tuhan. Di bawah ini dicantumkan hal-hal yang sangat diperlukan untuk
pertumbuhan rohani yang kuat, serta perkembangan pribadi yang berarti.

1. Perlunya Penyerahan Penuh.

Hal terpenting untuk memperbaiki diri adalah penyerahan penuh. Pada
dasarnya ini sesuai dengan prinsip alkitabiah. Leonard Ravenhill
menyatakan, "Banyak kesukaran kita jumpai dalam penginjilan dunia.
Namun, kesulitan-kesulitan itu menyebabkan orang menjadi lebih ulet.
Harganya mahal." M. Francois Coillard menambahkan, "Haruslah kita
ingat bahwa Yesus menyelamatkan dunia bukan dengan jalan menjadi
perantara dalam kemuliaan." Sebaliknya, Ia memberikan diri-Nya
sendiri. Kita banyak berdoa untuk penginjilan dunia. Namun, doa-doa
itu sangat bertentangan dengan yang diharapkan, selama kita hanya
memberikan sisa-sisa saja bukannya mempersembahkan diri kita sendiri.
Jadi, inilah titik mula kedewasaan. Kita haruslah seperti Yesus,
karena Yesus Kristus menyerahkan diri sepenuhnya.

2. Perlunya Menerima Pengampunan.

Ada orang-orang Kristen yang sangat kurang mengenali maupun menghargai
dirinya sendiri, sebab mereka tidak mau menerima pengampunan dari
Allah. Mereka terus menderita secara rohani, karena merasa kurang
layak mendatangi hadirat Allah yang Kudus sebagaimana adanya mereka.
Seorang pengarang tidak dikenal pernah menuliskan, "orang-orang suci
adalah orang yang membiarkan pengampunan Allah masuk sepenuh-penuhnya
ke dalam hidup mereka, sehingga bukan hanya dosa disucikan, tetapi
termasuk juga diri mereka yang sesungguhnya." Sekali lagi kita lihat
proporsi kemauan mereka untuk sungguh-sungguh mengampuni orang lain,
persis dengan tingkat pengampunan yang telah mereka terima. Di sini,
kita melihat satu lagi kunci utama untuk perkembangan diri. Sangat
perlu kita sadari bahwa Yesus Kristus mati di kayu salib untuk
mengampuni dosa kita secara sempurna. Pengampunan ini komplet. Yesus
sendiri mengatakan "sudah genap". Kita hanya dapat berkembang dengan
sempurna bila kita mau menerima fakta ini.

3. Perlunya Disiplin.

Disiplin merupakan faktor utama dalam perkembangan diri. Kehidupan
Kristen yang utuh kita hayati hanya bila kita patuh dan disiplin.
Memang ada kebebasan dan semangat untuk melayani Tuhan. Namun,
janganlah kita lupa segi lain, yaitu disiplin dan kepatuhan. Hope Mac
Donald berkata, "Disiplin adalah kunci tunggal untuk membuka pintu
hidup yang penuh sukacita dengan Kristus." Orang Kristen sebagai anak
Allah, dapat menghayati betapa dalamnya perkembangan rohani seperti
yang Kristus inginkan. Inilah syarat mutlaknya: mereka harus
membenamkan diri di dalam firman Allah, khususnya Sabda Yesus Kristus
perihal menjadi murid yang sejati.

4. Perlunya Menjaga Kesehatian Tubuh.

Hampir dapat dipastikan kita berfungsi sebaik-baiknya secara rohani,
ketika kita dapat berfungsi dengan baik secara jasmani. Kita tidak
dapat memerhatikan keperluan khusus untuk berdoa, bila pikiran kita
terus terganggu oleh tubuh yang sakit. Memang, adakalanya Allah
membiarkan penyakit dan penderitaan untuk membawa orang Kristen ke
tingkat rohani yang lebih tinggi. Walaupun demikian, dalam kebanyakan
hal, tubuh yang kurang sehat mungkin disebabkan kurangnya pemeliharaan
di masa lalu. Yesus memperingatkan para murid-Nya untuk hal ini. Pada
saat berbicara tentang peristiwa yang mengawali kedatangan-Nya
kembali, Tuhan memperingatkan para murid agar "Jangan sarat oleh,
pesta pora dan kemabukan, serta kepentingan duniawi (Lukas 21:34).
Peringatan pertama dalam ayat itu mengenai pesta pora, termasuk makan
terlalu banyak. Yesus menentang ini karena Ia tahu hal yang
berlebihan, merintangi perkembangan diri orang percaya dalam bidang
kesehatan.

5. Perlunya Menghargai Waktu.

Sejarah menunjukkan bahwa ada orang-orang yang berbuat banyak bagi
Allah. Mereka sangat menyadari perlunya menggunakan waktu dengan
bijaksana. Bagi mereka, setiap menit berharga, sebagai hadiah istimewa
dari Allah. Hamba-hamba Tuhan seperti John Wesley dan George
Whitefield, teliti sekali mengenai penggunaan waktu. Misalnya John
Wesley, ia mulai kegiatan pukul 04.00 pagi dan selalu ia tepat waktu.
Ia beristirahat malam pukul 22.00. Jika ada tamu pada saat itu, Wesley
mengakhiri dengan berbicara sopan: "Nah, saudara-saudara, inilah
saatnya semua orang sebaiknya berada di rumah." John Wesley tahu,
kalau ia tak memerhatikan waktu malam itu, ia akan sangat terganggu
besok paginya. Barangkali kesalahan terbesar yang dibuat orang Kristen
dalam hal pemakaian waktu adalah mengubahnya menjadi karet. Haruslah
kita pusatkan perhatian kepada hal terpenting untuk mencapai tujuan.
Seorang Quaker [Kelompok orang Kristen saleh di Inggris, Red.] yang
bijaksana, Thomas Kelly menyimpulkan "Kita tak dapat mati di atas
setiap salib."

6. Perlunya Pikiran yang Diperbaharui.

Kita tidak boleh meremehkan kekuatan "berpikir sehat". Ini perlu dalam
perkembangan diri. Dalam pokok pembicaraan ini disinggung betapa kita
harus "menyaring" apa yang masuk ke dalam pikiran kita. Dalam
Perjanjian Baru, kata bertobat bermakna harfiah sebagai "memiliki
pikiran yang berbeda". Berpikir positif menghasilkan pertumbuhan diri
pribadi, sedangkan berpikir negatif menghalangi kedewasaan rohani.
Norman Vincent Peale memberi nasihat, "Setiap orang waras pernah
memikirkan dan menyadari hal ini: Benarlah kata para dokter bahwa
sikap negatif, kebencian, gerutu, maksud buruk, kecemburuan, dendam
kesumat menyebabkan kesehatan memburuk. Serangkaian kemarahan
menyebabkan rasa perih dalam perut yang mengarah ke penyakit perut.
Reaksi-reaksi kimia tertentu dalam tubuh ditimbulkan oleh cetusan
emosi yang menghasilkan rasa kurang sehat. Bila hal ini terjadi terus-
menerus sepanjang waktu tertentu, maka kondisi tubuh secara umum akan
semakin memburuk.

7. Perlunya Roh yang Benar.

Ini sebuah teka-teki: dari segi duniawi, kita melihat dari Alkitab
bahwa Allah memilih orang berumur 80 tahun memimpin puluhan ribu orang
menyeberangi padang tandus ke tanah perjanjian. Tepatnya mengapa Allah
memilih Musa yang tua itu menjalankan tugas itu. Jawabannya dilukiskan
dalam Bilangan 12:3. Digambarkan "Musa seorang yang sangat lembut
hatinya, lebih dari setiap manusia yang ada di atas muka bumi". Di
antara orang-orang itu, Musa memiliki hati yang lembut, oleh sebab itu
Allah memilih dia memikul tanggung jawab besar. Memang Musa menulis
lebih banyak halaman Alkitab dibandingkan dengan siapa saja, termasuk
Paulus. Tak sukar mencari sebab mengapa ia dipilih. Musa dapat
diandalkan untuk mendengar dan mematuhi Allah. Seorang yang memiliki
"roh yang benar" selalu rela mendengarkan.

Daniel memiliki sikap hati yang sama. Ia itu ditinggikan melebihi
semua raja-raja dan pemimpin-pemimpin di Babilonia. Bukan itu saja
yang Alkitab sebutkan, tetapi dinyatakan juga mengapa Daniel menerima
peningkatan itu. Mungkin ada orang berpendapat, itu karena Daniel
selalu berdoa, tetapi penjelasan lengkap dari firman Allah bukan hanya
demikian. Dengan sederhana Alkitab berkata, "Maka Daniel ini melebihi
para pejabat tinggi dan para wakil raja itu karena ia memunyai roh
yang luar biasa." (Daniel 6:43)

Perkembangan diri dalam semua segi sangat penting bila kita mau
dipakai oleh Allah. Orang yang tidak rela memperkembangkan suatu "roh
yang luar biasa" tak mungkin akan pernah bertumbuh dengan sempurna.

Sumber asli: "Pedoman Doa yang Mengubah Dunia"
Penerbit: Yayasan Literatur Kristen Indonesia

Thursday, 29 September 2011

Movement of the Moderates


Movement of the Moderates

by Rev. Eu Hong Seng
MALAYSIA continues to face some of her darkest moments as a nation. Over the past months, the lack of political will to mitigate racial and religious intolerance has naturally given rise to ideologues, extremists, and radicals. All these are no different in essence from the keris-wavers and cow-head trampling demonstrators we saw a few years ago.
How one can rant and rave and threaten bloodshed and yet walk the streets a free man, whilst those who merely wear yellow T-shirts can be arrested, is most incomprehensible and unfortunate.
The 9 July 2011 Bersih 2.0 rally is a culmination of frustrations of the nation's citizenry, and I suspect this marks the beginning of a movement of the moderates.
There is some truth in the government's reasoning that rallying "is not our culture." But when tens of thousands of ordinary peace-loving people persist to take to the streets, besides the many thousands more who could not go due to the blockades and gridlock in the capital city, then it is incumbent on all of us to do some soul-searching.
The arguments for the legitimacy or otherwise of the Bersih 2.0 rally reminds me of the famous "Lady Justice." This iconic figure wears a blindfold over her eyes while lifting a sword in one hand and carrying a pair of scales on the other. Symbolically, she represents fair and equal administration of the law - without prejudice, avarice, corruption, fear or favor.
If our leaders had likewise worn a blindfold1 and were asked to objectively judge the calls of concerned citizens and assess their conduct at the rally, their response would not have been so immature.
In many parts of the world, any group or government espousing to "clean the electoral roll," "stop corruption," "use indelible ink" - would have been praised as being proactive, decent, fair-minded, honest, rational. Strangely in Malaysia, when some people ask for these very same practices, they are "demonized", simply because they are "not government". What we witnessed on 9 July 2011 was the epitome of crude partisan politics.
Personally, I think the demands of Bersih 2.0 - for electoral reforms and the right to have a peaceful march - were not only reasonable, but impartial as well. Bersih 2.0 was not proopposition but pro-democracy.
The people of Malaysia are maturing in democracy and we can no longer tolerate unfair practices, corruption, vote-buying and otherwise. Being "blindfolded" like Lady Justice also means we are color blind, i.e. it does not matter if you wear red T-shirts or have green banners, nor does it matter if you are yellow, black or brown-skinned.
A right is a right. A wrong is a wrong regardless of whether it is committed by the government or the opposition or whomsoever.
I know the Church in this nation to be a peace-loving people. But more importantly, we are a people of the Book and our Book teaches us principles and values, rights and wrongs.
We remember Christ's mandate to love our neighbors as ourselves and not conduct ourselves in an un-Christian manner. At all times, we want to be conciliatory and be agents of peace to ensure harmony.
We must resist the temptation to say and do things that are escalatory and antagonistic. When highly confrontational tactics begin to replace more co-operative approaches, conflicts escalate and more extreme personalities maneuver to become leaders of the conflict groups.
And when this polarization degenerates till so much that is said and done makes no sense, we then need to remind ourselves that Lady Justice, though blindfolded, is "not gagged." This is where the silent majority and the Church must speak up. Scriptures mandate us to open our mouth.2
Moderates must speak up to check the damage intended by hard-liners and ensure that democracy is not hijacked.
We do not subscribe to "political subversion" but the Church has the responsibility to stand up against the fanatics and hypocrites bent on corrupting the moral fiber of our people and destroying our democratic nation.
There is nobody to save Malaysia except Malaysians. It is time for the moderates to speak up, be heard and play their role in this nation.
(This article was first published on the NECF website on 13 July.

Monday, 19 September 2011

Gereja Anglikan Good Shepherd

Shallom. Dalam entri kali ini, kami ingin memaparkan keadaan luar gereja. Gereja ini terletak di atas lot kedai seperti yang dipaparkan kepada anda. kami percaya bahawa anda juga boleh terlibat bersama kami dengan mempromosikan gereja ini di gereja lokal anda di sabah, sarawak dan semenanjung. Tuhan memberkati semua.
                                                      Letaknya Gereja ini
                                                     Pintu masuk ke depan
                                                    kawasan tempat letak kereta
                                                    Kawasan letak kereta

Saturday, 17 September 2011

Konsert PBM 2011

Shallom semua. kami sangat mengucap syukur kerana konsert PBM berjaya dengan pimpinan Tuhan. Lebih dari 130 jemaat yang hadir pada malam tersebut. kami sangat berterima kasih kepada pengkhotbah undangan, Mr Eugune Lim dari Damansara Utama Methodist Church ( DUMC) yang melayani bersama dengan kami bersama dengan rombongan beliau. Terima kasih juga kepada jemaat dari Masterskill,St.Paul, St.Mary`s dan St.Katherine yang datang bersama-sama dengan kami pada malam konsert tersebut. Tuhan berkerja dengan amat luar biasa sekali. Tuhan memberkati anda semua.



Sunday, 11 September 2011

Kesaksian dari Mr Kerk


Dear Adrian & Irene,
The attendance for the first night was 800+. After the news of what had happen on the 1st night, the attendance on the 2nd night soared to above 1000+. The hall is with air-condition, however, due to the number of attendants, the temperature outside the hall is very much cooler than inside the hall. For the 1st night, meeting started at 7pm and went on until 1am. For the 2nd night, I left at 12pm and was told it will go on until 2-3am. due to the number of people attended.

The Lord is using this great evangelist to perform great things amongst the Lower Perak folks.
In between singing praises and gospel talk he performed healing. As there were too many happening that cannot be documented in great detail, below are some of the event that very obviously took
place in front of my eyes.
1. seven to eight people were heal of hearing defect. My friend, Peter Lim who was deaf since 2008, is
able to communicate to me in a crowd. The night before, when I talk to him, he will be talking on
some other subject.
2. One 17 year old Chinese girl was deaf and dump. After praying, she was able to hear and respond to the speaker’s call to call the name of “Jesus”. Although the pronunciation was not very accurate, but she can hear and respond to the speaker. The teacher who brought her here could not believe it.
3. A 20+ Indian girl came in a wheel chair. she met with an accident one & a half year ago. She cannot walk and the back has to be reinforced by a thick woollen plastic support. The speaker came forward and pulled her up from her wheel chair and asked her to walk with him and eventually run with him. After that, they was a dialogue between two of them and  I saw she put her hand into her dress and pulled out the woollen plastic support from her back and gave it to the speaker. The speaker shouted that from now on you don’t need this. She was asked to band forward and backward which she did. You cannot believe with what you see, she did it so well. In fact, she commented she did not intent to come for the meeting tonight because tomorrow she has an appointment with the doctor for follow up.
4. A five year old girl born with defective left leg. One leg is shorter than the other. Further she could not control her urine. she has to put on napkin all the time. After praying and lying on the floor for sometimes, she got up and began to walk. Her mother commented that she can now walk properly with the left foot facing the front instead of facing left side.

I have more than 10 persons from Unitata attended the meetings. Many of them were excited to see what had happened. some request to know when is the speaker coming again. I am very sure the two nights event had aroused interest for the Lord in many hearts. We have yet to assess the impact.
Thank you for your prayer.